Oleh: Ardiyansah
Modal utama seorang animator adalah kemampuan meng-capture
momentum ke dalam runtutan gambar sehingga seolah-olah menjadi bergerak
atau hidup. Sedikit berbeda dengan komikus, ilustrator, atau
-katakanlah- karikaturis yang menangkap suatu momentum ke dalam sebuah
gambar diam (still). Animator harus lebih memiliki ‘kepekaan gerak’
daripada ‘hanya’ sekedar kemampuan menggambar. Gambar yang bagus akan
percuma tanpa didukung kemampuan meng-’hidup’-kan. Sebagaimana definisi
dasar animasi yang berarti: membuat seolah-olah menjadi hidup.
Ada berbagai macam teori dan pendapat tentang bagaimana seharusnya
animasi itu dibuat. Tetapi setidaknya ada 12 prinsip yang harus dipenuhi
untuk membuat sebuah animasi yang ‘hidup’. Ke-12 prinsip ini meliputi
dasar-dasar gerak, pengaturan waktu, peng-kaya-an visual, sekaligus
teknis pembuatan sebuah animasi.
1. Solid Drawing
Menggambar sebagai dasar utama animasi memegang peranan yang
signifikan dalam menentukan -baik proses maupun hasil- sebuah animasi,
terutama animasi klasik. Seorang animator harus memiliki kepekaan
terhadap anatomi, komposisi, berat, keseimbangan, pencahayaan, dan
sebagainya yang dapat dilatih melalui serangkaian observasi dan
pengamatan, dimana dalam observasi itu salah satu yang harus dilakukan
adalah: menggambar.
Meskipun kini peran gambar -yang dihasilkan sketsa manual- sudah bisa
digantikan oleh komputer, tetapi dengan pemahaman dasar dari prinsip
‘menggambar’ akan menghasilkan animasi yang lebih ‘peka’.
December 25, 2011
November 17, 2011
Apa itu DPI, Resolusi Layar, Ukuran Point dan Megapixel…?
Dot Per Inch (dpi)
Kualitas hasil cetak printer dan kemampuan scanner dalam menangkap gambar biasanya ditunjukkan dengan nilai dots per inch (dpi). Nilai ini menunjukkan seberapa banyak titik pada satu inci persegi. Tapi kenyataannya istilah ini seolah kehilangan arti.
Kemampuan sebuah printer untuk menghasilkan begitu banyak titik pada setiap inchi sebenarnya bukan patokan kualitas hasil cetak. ragam tinta, ukuran droplet (titik tinda), teknik semprot serta kualitas kertas bertkontribusi langsung pada tampilan atau output akhirnya.
Begitu pula halnya dengan scanner. Sebuah scanner dengan resolusi 9.600 dpi contohnya, mungkin hanya bisa menangkap informasi gambar sekitar 600 dpi saja. Waspadai, tinggi nilai dpi bisa jadi merupakan hasil interpolasi digital dan bukan kerena kemampuan sebenarnya.
Resolusi Layar
Gambar-gambar yang Anda lihat pada layar monitor kenyataannya terbuat dari ribuan (bahkab jutaan) titik kecil yang berwarna – disebut picture element atau pixel. Hal ini Biasanya ditentukan oleh resolusi kartu grafisnya.
Kartu grafis yang dapat menghasilkan resolusi layar 1.600 x 1.200 pixel, contohnya, akan menghasilkan 1.920.000 pixel. Resolusi sebesar itu terbilang cukup rapat dan halus. Resolusi layar monitor CRT biasanya lebih fleksibel, sementara monitor TFT lebih terbatas.
Ukuran Point
Point atau pt menunjukan ukuran cetak suatu jenis font. Dalam percetakan modern, tinggi satu point biasanya sama dengan 1/72 inchi (0.0138 inchi atau 0,35 mm). karena itu, font dengan ukuran 12 pt akan memakan tinggi ruang cetak sebesar 4,2 mm (12 x 0.35 mm). Ukuran itu sudah termasuk ruang untuk tipe huruf yang menjulur keatas (seperti ‘f‘ ) ke bawah (seperti ‘p‘)
Kualitas hasil cetak printer dan kemampuan scanner dalam menangkap gambar biasanya ditunjukkan dengan nilai dots per inch (dpi). Nilai ini menunjukkan seberapa banyak titik pada satu inci persegi. Tapi kenyataannya istilah ini seolah kehilangan arti.
Kemampuan sebuah printer untuk menghasilkan begitu banyak titik pada setiap inchi sebenarnya bukan patokan kualitas hasil cetak. ragam tinta, ukuran droplet (titik tinda), teknik semprot serta kualitas kertas bertkontribusi langsung pada tampilan atau output akhirnya.
Begitu pula halnya dengan scanner. Sebuah scanner dengan resolusi 9.600 dpi contohnya, mungkin hanya bisa menangkap informasi gambar sekitar 600 dpi saja. Waspadai, tinggi nilai dpi bisa jadi merupakan hasil interpolasi digital dan bukan kerena kemampuan sebenarnya.
Resolusi Layar
Gambar-gambar yang Anda lihat pada layar monitor kenyataannya terbuat dari ribuan (bahkab jutaan) titik kecil yang berwarna – disebut picture element atau pixel. Hal ini Biasanya ditentukan oleh resolusi kartu grafisnya.
Kartu grafis yang dapat menghasilkan resolusi layar 1.600 x 1.200 pixel, contohnya, akan menghasilkan 1.920.000 pixel. Resolusi sebesar itu terbilang cukup rapat dan halus. Resolusi layar monitor CRT biasanya lebih fleksibel, sementara monitor TFT lebih terbatas.
Ukuran Point
Point atau pt menunjukan ukuran cetak suatu jenis font. Dalam percetakan modern, tinggi satu point biasanya sama dengan 1/72 inchi (0.0138 inchi atau 0,35 mm). karena itu, font dengan ukuran 12 pt akan memakan tinggi ruang cetak sebesar 4,2 mm (12 x 0.35 mm). Ukuran itu sudah termasuk ruang untuk tipe huruf yang menjulur keatas (seperti ‘f‘ ) ke bawah (seperti ‘p‘)
October 01, 2011
My Name is Brand*
Oleh: Edy SR
Selamat datang di dunia nama. Perhatikan sekitar. Dan kita akan melihat orang bercelana Levi Strauss. Bersepatu Adi Dassler. Sambil mengunyah Mac McDonald, ditemani sebotol Sosrodjojo dingin.
Di kesempatan yang lain, kita juga akan melihat orang yang sibuk mengetik di Michael Dell, untuk dicetak oleh Bill Hewlett-Dave Packard. Sembari sesekali menjawab panggilan telepon dari (Sony) Larn Magnus Ericcson. Maklum, dia seorang arsitek di Ciputra Development, yang sedang menyiapkan rencana pengembangan kawasan Sampoerna Strategic Square.
Tidak hanya itu. Masih banyak “nama” yang akhirnya kita kenal sebagai “merek ternama”. Belajar dari mereka, mestinya kita juga bisa memasarkan nama kita sendiri. Tentu disertai dengan spesialisasi, reputasi, serta distinctive yang unik. Jika tidak, hanya akan melahirkan nama pasaran yang sulit dibedakan dengan nama serupa lainnya.
Coba ingat, ada berapa banyak warung makan bernama “Warung Sederhana”. Atau toko kelontong yang dinamai, “Toko Pojok”. Belum lagi kalau kita perhatikan semua gerai ponsel dan pulsa yang mereknya berakhiran “Cel, Cell, Sel, dan Sell!”. Oh my G, kenapa kita selalu berpikir sama, padahal kita berharap mendapat hasil yang berbeda.
Spesialisasi
Tidak banyak, orang yang dibekali kemampuan multitasking. Karena itu, spesialis lah. Mumpuni dalam satu hal, bukan sebuah kelemahan. Tapi justru menjadi kelebihan. Di Indonesia, terutama di Jawa, nama Sosrodjojo jumlahnya bisa ribuan. Tapi kenapa, kita hanya mengenal satu “Sosro”? Jawabnya gampang, karena Sosro ahlinya teh.
Selamat datang di dunia nama. Perhatikan sekitar. Dan kita akan melihat orang bercelana Levi Strauss. Bersepatu Adi Dassler. Sambil mengunyah Mac McDonald, ditemani sebotol Sosrodjojo dingin.
Di kesempatan yang lain, kita juga akan melihat orang yang sibuk mengetik di Michael Dell, untuk dicetak oleh Bill Hewlett-Dave Packard. Sembari sesekali menjawab panggilan telepon dari (Sony) Larn Magnus Ericcson. Maklum, dia seorang arsitek di Ciputra Development, yang sedang menyiapkan rencana pengembangan kawasan Sampoerna Strategic Square.
Tidak hanya itu. Masih banyak “nama” yang akhirnya kita kenal sebagai “merek ternama”. Belajar dari mereka, mestinya kita juga bisa memasarkan nama kita sendiri. Tentu disertai dengan spesialisasi, reputasi, serta distinctive yang unik. Jika tidak, hanya akan melahirkan nama pasaran yang sulit dibedakan dengan nama serupa lainnya.
Coba ingat, ada berapa banyak warung makan bernama “Warung Sederhana”. Atau toko kelontong yang dinamai, “Toko Pojok”. Belum lagi kalau kita perhatikan semua gerai ponsel dan pulsa yang mereknya berakhiran “Cel, Cell, Sel, dan Sell!”. Oh my G, kenapa kita selalu berpikir sama, padahal kita berharap mendapat hasil yang berbeda.
Spesialisasi
Tidak banyak, orang yang dibekali kemampuan multitasking. Karena itu, spesialis lah. Mumpuni dalam satu hal, bukan sebuah kelemahan. Tapi justru menjadi kelebihan. Di Indonesia, terutama di Jawa, nama Sosrodjojo jumlahnya bisa ribuan. Tapi kenapa, kita hanya mengenal satu “Sosro”? Jawabnya gampang, karena Sosro ahlinya teh.
Label:
Desain Grafis,
Referensi
Subscribe to:
Posts (Atom)
